DETAK JANTUNG BEKASI-JOGJA

19 Juli 2012 at 22:15 4 komentar

Kamis, 1 April ’10..oleh : Gunawan Gustaf

Pikiran terasa segar meski badan sangat lelah di sore hari sepulang kerja. Setumpuk baju langsung kumasukkan tas gendong yang baru kubeli beberapa hari yang lalu. Ya..!! Aku bersiap pulang kampung ke Jogja di malam Jum’at Kliwon.

”Wassalamu’alaikum”, ucapku kepada satu-satunya temen kosku sembari melangkah keluar pintu kos menuju pos ojek di samping kos-kosan langka akan air itu.

”Asrama, Pak..!!” kuucap tanpa menunggu tawaran dan langsung ku melangkah duduk di jok belakang Supra Fit andalan bapak yang berkumis tebal itu.

Singkat dan sesingkat-singkatnya kata sampailah awal petualanganku di Stasiun Bekasi.. ”Bangsatt..”, gerutu batinku mendengar tiket kereta jurusan Jogja semua kelas ludes untuk pemberangkatan malam itu.

Sebatang clasmild di antara jari tengah dan telunjuk kananku menemaniku dalam kebimbangan di stasiun yang terbilang asing bagiku. Tiba-tiba timbul pikiran jahatku untuk mengulang peristiwa bersejarah beberapa bulan yang lalu. 15 ribu nyampe Jogja..?? Itu dia solusinya.

20.30.. Kereta api Bengawan muncul dari arah barat dengan kondisi yang penuh sesak. Gerbong lokomotif berhenti tepat di depanku berdiri. Tanpa negosiasi aku langsung loncat naik duduk manis di antara lokomotif dan gerbong 1 di tengah-tengah keringat manusia Manggarai atau Jatinegara mungkin. Sampai di sini aku anggap selamat sampai 1/5 tujuan.

21.00.. Kulihat lewat jendela kaca, di depanku sang Masinis mulai menarik handle gas seiring dengan suara berisik cerobong di atas loko dekil dan sangkakala mini di tepat sejajar dengan cerobong itu. Let’s go..!!

Gerimis mewarnai awal kereta merambat. Pelan, pelan, dan semakin cepat. Beruntungnya aku. Hangat, nyaman, sedikit bebas dari siraman gerimis yang dingin itu. Ya..!! Area yang sangat strategis, buat tidur bahkan. Manuverku naik dan duduk di antara tas-tas penumpang gelap seperjuanganku membawaku seolah naik ke kelas ‘Executive’.

Kupeluk tasku untuk menambah kehangatan dan kugenggam erat selembar ‘goceng’ buat duit tutup mulut sang kondektur saat diminta tiket nanti. Cikarang, Kerawang, aman.

Kereta sedikit demi sedikit mengurangi laju kecepatan seiring merapatnya besi tua berjalan itu ke Stasiun Cikampek. ”Goceng pertama gue aman nich”, batinku. Aku masih dengan nyaman bersandar di punggung belakang loko sambil geleng-geleng melihat para penumpang yang tak dapat terangkut kereta ‘murah’ itu. Pasti di otak mereka sudah berisi aneka pikiran tentang kampung masing-masing, begitu pula aku.

Sekilas fatwa tumbuh spontan di pikiranku yang membuat aku berpikir akulah makhluk Tuhan paling beruntung di malam naas itu. Padahal… Masalah besar kedua baru dimulai..!!!

”Turuun, turuunn!!”, bentak salah seorang security yang kemudian diikuti rekan-rekannya kepada penumpang yang berada di lokomotif. Kaget dan takut dirasakan sekitar 15 orang yang dimaksud, termasuk aku. Akupun turun dengan segera. Kulihat ada beberapa yang sampai kena pukul petugas security itu. Beruntungnya aku bebas pukulan sambil ku menggerutu, ”asu koe kabeh lah..!!”

”Lu pikir ni ojek, maen nongkrong aja. Ntar tunggu kereta belakangnya, sejam lagi lah paling lama” lanjutnya membentak. Bangsat bener lu, gue sumpahin ga punya anak lu, batinku sambil ngelirik tajam security muda itu. Mulai ku mencari celah di tiap pintu gerbong berharap masih ada sejengkal pijakan agar tetap bisa pulang lebih cepat, males banget gue nunggu sejam lagi.

Sialnya… Gambaran mini Padang Mahsyar terlukis. 11 gerbong penuh sesak, tak sedaun pintupun mengijinkanku masuk. Shit, piss, fuck, cunt, cocksucker, motherfucker, tits, fat, terd, and twat.. Gerutu sempurnaku terucap seiring langkah putus asaku pulang lebih awal.

5 menit ku mondar-mandir di smping lokomotif dan orang-orang yang senasib denganku membayangkan ku terdampar di Stasiun terkutuk Cikampek. Akal busuk bulus nekadku berjalan. Okey siapa takut..???

Sangkakala mini bergema. Kereta mulai merambat. Go..!! Langsung ku meloncat naik kembali ke lokomotif diiringi suara merdu beberapa peluit security. Sayangnya, masinis ga denger peluitmu, Pak!! Aksi nekadku yg tak terhambat diikuti loncatan orang-orang yang senasib denganku tadi. Ya, kita berkumpul lagi seiring akselerasi kereta yang membuat security bangsat itu geleng-geleng.

Gerimis tipis mengiringi laju kereta, juga obrolan kami mengutuk tingkah security sialan tadi. Berbagai cercaan, makian, kata-kata kotor keluar dari masing-masing korban yang senasib denganku tadi. Tak ayal, kosakataku tentang kata ‘kotor’ langsung kaya dalam sekejap, karena mereka memaki dengan bahasa daerah masing-masing, dan saling berbeda.

Tak terasa, tak dinyana, tak disangka, dan tak kupercaya, aku bisa tertidur di: antara kerumunan orang-orang berkeringat dan sedang mencela, antara tas-tas besar dan kotor, bawah terompet kereta yang dapat bergema setiap ada palang pintu, bawah rintik gerimis, dan yang pasti di dalam situasi yang kalut.

Tersentak oh aku terperanjat dan tersadar oh tergugah oleh sangkakala panjang melintasi daerah Wates..

Teringat tentang ongkos kereta. Haha goceng maish kugenggam, artinya goceng kedua aman, ketiga? Aman.. Artinya GRATIS coy. Penuh sesak gerbong menjadikan kondektur sulit pindah tempat, apalagì sampai lokasi lokomotif, tempatku bersemayam dengan nyaman..

Tak ada masalah berarti hingga….

Stasiun Tugu, jam 05.30..

Memasuki pinggiran kota Yogyakarta, mendekati Stasiun Tugu, semakin merapat ke tempat pemberhentian. Aku sadar dan aku tau yang mana memahami kalau kereta bertarif murah ini tidak berhenti di Stasiun Tugu, melainkan Lempuyangan. Tapi ada 2 alasan bisikan entah setan atau apalah, membuatku ingin berbuat nekat..

Kebayang nikmatnya pemandangan dan soto pagi Jalan Malioboro di pagi hari, didukung seiring melambatnya laju kereta ‘murah’ ini melintasi stasiun ‘surga’ Tugu. Ya!! itulah 2 alasan yg sebenarnya tak terlalu mengharuskan.

Ya aku akan loncat maut..!!

”Ntar kaki kanan dulu, usahakan langsung lari sekencang mungkin setelah lompat.” ujar teman seperjuanganku di kereta, orang Solo dia. ”Siip..!!” kataku sembari memindah tas ransel yang semula di punggungku ke dadaku, biar nyaman (karépè).

20km/jam kira-kira kecepatan kereta saat melintas di Stasiun Tugu. ”Bismillah” ucapku agak lirih seiring kaki kananku meloncat di hadapan puluhan, bakan ratusan calon penumpang Stasiun Tugu. Kucoba lari sekencang mungkin guna mengimbangi laju kereta. Tapi apalah kekuatan kaki yang semalam penuh kugunakan untuk menjaga keseimbangan di atas kereta.

Tak ayal lagi, takkan teringkari, tak akan pernah terganti, masa ini kan kulalui. Langsung tersungkur ku terjatuh yang mana terjerembab sekaligus terseret berat badanku sendiri di hadapan ratusan orang. Hampir 10 meter aku meluncur di lantai tunggu stasiun. Langsung ku berdiri, menengok ke belakang melihat bekas landasan luncuranku, panjang juga.

Tak kuhiraukan apakah aku terluka secara fisik atau tidak. Ku berjalan cepat dengan menunduk menghindari tatapan orang-orang disitu, ke toilet tenangkan pikiran, siapa tau ada paparazzi, wartawan, atau mungkin sutradara. Kan bisa berabe.. ”Langkah yang tepat memindahkan tas ransel ini ke dadaku. Kalau tidak, mungkin …” batinku melihat tas ranselku sedikit lecet yang pasti ada di dadaku jika tas tadi kutaruh di punggung.

Syukurlah dah ga’ ada yang kasih perhatian khusus tertuju padaku selepas ku keluar dari toilet. Pikiranku langsung membawa kakiku melangkah ke arah Jalan Malioboro seiring protesnya si perut yang keroncongan.

Kenyang, mata segar abis di’insto’ oleh para wanita-wanita cantik berlalu-lalang yang selama hampir usiaku menyentuh kepala 2 hanya kuimpikan kumiliki, bahkan sampai saat catatan ini kutulis.

Hari-hari di Jogja kulalui dengan penuh harapan tanpa usaha, berharap bertemu dia, teman lama yang kini membenciku. Bermaksud minta maaf dan kan kuungkapkan perasaanku padanya. Sampai akhirnya setelah 3 hari aku kembali lagi ke Bekasi dengan hasil yang nihil..

EnD.

Entry filed under: Anak rantau. Tags: , , , , .

BURNOUT DEPAN BELAKANG RAMADHAN 1433H,BMW MENGUCAPKAN SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA,MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

4 Komentar Add your own

  • 1. sabar  |  19 Juli 2012 pukul 22:24

    Geleng” kepala aku

    Balas
  • 2. Kelana 97  |  19 Juli 2012 pukul 22:42

    Wuadhuh…,nekad..

    Balas
  • 3. vixy182  |  20 Juli 2012 pukul 00:01

    pasti cewk tmn nya nih…🙂

    Balas
  • 4. bapakeVALKYLA  |  20 Juli 2012 pukul 16:45

    wah, demi ketemu keluarga.. nekad juga..

    Balas

bagaimana dengan tanggapan anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


find me on facebook

BMW on facebook

follow me on twitter

twits

  • XL 4G butuh 18menit buat loading facebook #xl hebat, kurang sabar gimana coba :)wahyu 2 months ago
  • Susu dan gula hanya merusak rasa kopiwahyu 2 months ago

Paguyuban blogger jogja

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Yang sudah mampir


%d blogger menyukai ini: